“World on Fire” Slash Bakar Malaysia – StarMusicSurabaya

“World on Fire” Slash Bakar Malaysia

StarMusicSurabaya.com – Malam Valentine biasanya dirayakan bersama kekasih menikmati santap malam romantis, namun ribuan muda-mudi di Kuala Lumpur lebih memilih untuk menonton konser Slash di Surfbeach Pool, Sunway Lagoon, Malaysia.

Konser Slash Myles Kennedy & The Conspirators (SMKC) malam itu (14/2/2015) di Malaysia, adalah bagian dari rangkaian tur dunia untuk mempromosikan album anyar Slash “World on Fire” yang telah dimulai di Amerika musim panas tahun lalu.

Ini adalah kedua kalinya Slash main di hadapan publik Malaysia, sebelumnya di 2010 ia juga manggung di venue yang sama. Beberapa hari yang lalu, SMKC tampil sold out di 3 kota besar di Jepang, dan rencananya SMKC akan menyapa fansnya di Claudelands Arena Hamilton, New Zealand, pada 17 Febuari dan di TSB Arena, Wellington keesokan harinya.

Kekosongan posisi vokal di Velvet Revolver, setelah hengkangnya Scott Weiland tahun 2008, membuat Slash lebih berkonsentrasi di proyek solonya. Setelah hampir lima tahun main bareng menjelajah panggung demi panggung di seluruh dunia dan merekam 2 studio album, chemistry dalam Slash Myles Kennedy & The Conspirators semakin solid.

“Saya adalah anak band. Saya dibesarkan dengan mendengar band-band klasik rock. Itu adalah pengaruh terbesar saya. Sebagai seorang solo artis, saya membuat rekaman dan membangun sebuah band bersama untuk merekam album. Tapi begitu saya berkumpul bersama Brent (drummer), Myles (vokal) dan Todd (bassis), secara otomatis situasinya langsung berubah menjadi sebuah band,” kata Slash pada Classic Rock magazine.

“Chemistry yang muncul. Fakta bahwa kami dapat bermain begitu kompak. Yang penting dalam sebuah band rock n’ roll yang hebat adalah sikap saling memberi dan menerima di antara pemain. Itulah yang terjadi (pada kami) dan itulah yang membuat band ini terus terinspirasi (untuk berkarya). Ada semacam jalinan persahabatan yang terjadi, dan saya merasa dengan cara itu lebih berhasil daripada hanya bekerja (merekam album) dengan sekelompok musisi profesional,” lanjut Slash.

Myles Kennedy, yang mendapat julukan ‘The Hardest Working Person in Rock Industry’ karena perannya sebagai vokalis di dua band rock besar (Myles juga vokalis Alter Bridge), tak sedikitpun menunjukkan kelelahan di panggung malam itu.

Kefasihannya membawakan repertoir klasik Guns N’ Roses macam “Night Train”, “Double Talkin Jive”, “You Could Be Mine”, “Rocket Queen” dan “Sweet Child O’ Mine”, termasuk hit andalan Velvet Revolver “Slither” menunjukkan kharismanya sebagai vokalis rock papan atas dunia. Fans GNR di seluruh dunia pun seolah rela bila ia kini ‘menggantikan’ Axl Rose sebagai frontman di band solo Slash.

Kepiawaian Myles berinteraksi dengan penonton juga patut mendapat acungan jempol. Malam itu, ditengah jeda lagu, ia mengajak penonton menirukan suaranya layaknya Freddie Mercury di tengah konser Queen. Ribuan penonton yang hadir dengan kompak mengikuti komando Myles, yang juga mengenakan t-shirt Queen, menyanyikan oa..eo..au..oo.

Keputusan Slash menunjuknya sebagai vokalis sangat tepat. Lirik dan melodi lagu-lagu di dua album Slash terakhir, yang selalu menduduki tempat teratas tangga lagu rock Billboard, adalah hasil coretan tangan Myles. Peran sebagai featuring vokalis di band Slash rasanya sudah tak pantas disandang Myles lagi.

Tengok saja ribuan penonton di Sunway Lagoon yang ikut bernyanyi bersama Myles di lagu-lagu baru Slash seperti “You’re a Lie”, “Halo”, “30 Years to Life”, “Wicked Stone”, “The Dissident”, “Beneath the Savage Sun”, “Bent to Fly”, “World on Fire” dan “Anastasia”. Suatu bukti bahwa lagu-lagu baru Slash mendapat respon positif dari penggemarnya.

Kerja keras Myles bersama Slash dan Alter Bridge telah menuai hasilnya. Tiga tahun berturut-turut, 2012 – 2014, Myles Kennedy beroleh gelar Vocalist of the Year dari Loudwire Music Awards.

Todd Kerns, bassis asal Saskatchewan Kanada, yang mulai bergabung pada saat Slash melakukan tur di 2010, tak hanya jago main bass, ia juga pandai bernyanyi. Tanpa ragu, Todd menggantikan Myles, yang sedang istirahat setelah “You Could Be Mine”, membawakan nomor lawas GNR “Out to Get Me” dan “Dr. Alibi”, salah satu lagu di album Slash 2010 yang aslinya dinyanyikan oleh Lemmy Kilmeister.

Adalah “Nightrain”, lagu pertama yang dimainkan Todd saat pertama kali dipanggil Slash untuk latihan bareng di tahun 2010. Todd mengaku tak melakukan latihan sedikitpun ketika Brent Fitz merekomendasikannya.

“Appetite For Destruction sudah menjadi bagian dari DNA-ku. Aku pernah bermain gitar dan bass untuk semua lagu di album itu dengan berbagai band yang berbeda. Aku juga menyanyikannya,” jelas Todd, yang meraih Bassist of the Year 2014 dari Loudwire Music Awards, kepada Classic Rock.

Todd Kerns dan Brent Fitz, yang duduk di belakang set drum, menjadi jangkar rhythm section Slash yang solid. Dengan fondasi yang mereka bangun, Slash dan Myles dapat meraih ‘ketinggian’ (penampilan terbaik) yang harus dicapai.

Brent Fitz yang juga berasal dari Kanada ini, punya tone dan gebukan drum yang khas, malah bisa dibilang melodius. Ini tak mengherankan karena pada dasarnya ia adalah seorang pianist, yang telah menyentuh tuts piano sejak usia 5 tahun. Setelah melihat permainan Alex Van Halen di konser Van Halen di Winnipeg tahun 1984, Fitzy mulai tertarik untuk bermain drum.

Drummer yang pernah kerja bareng Alice Cooper dan Vince Neil ini ternyata penggemar berat Steven Adler. “Suatu hari aku memanggilnya khusus untuk duduk di belakang drum kit-ku memainkan “Mr. Brownstone”. Aku kira tak ada orang yang lebih baik memainkan “Mr. Brownstone” selain Steven, termasuk seluruh pola intro-nya. Dengan berdiri disampingnya dan memperhatikan bagaimana ia bermain, aku harap bisa melakukannya seperti Steven,” ujar peringkat 4 Best Rock Drummer versi MusicRadar ini.

Di posisi rhythm gitar ada Frank Sidoris yang memainkan secara live sound rhythm gitar yang direkam Slash di studio. Sayang, penampilan Frankie di Malaysia malam itu terkesan ‘malu-malu’, padahal ia telah bergabung dengan Slash sejak awal 2012.

“World on Fire”, Album of the Year 2014 versi Classic Rock Magazine, yang rilis September lalu, memang tidak berisi lagu-lagu pengantar tidur atau teman setia saat patah hati. Album yang berisi 17 lagu itu, sebagian besar didominasi oleh heavyrock dan blues yang penuh semangat, hanya sesekali diselingi ballads.

Dan Slash hingga kini masih tetap berpegang pada pakem rock tradisional, sejak ia memulai karier musiknya dulu, dimana sebuah lagu dibangun dari riff gitar yang kuat dan mencapai klimaksnya dengan lantunan gitar solo yang indah.

“Sebagai seorang gitaris, Slash yang sekarang jauh lebih bagus dari sebelumnya, karena ia selalu berlatih keras. Ia juga lebih baik sekarang sebagai penulis lagu. Buat kami, sebagai sebuah band, bisa menciptakan musik baru yang relevan, dan tidak selalu terpaku pada kejayaan Slash dan lagu-lagunya di masa lampau, sangatlah menginspirasi. Adalah tantangan buat saya untuk bisa mengimbangi Slash,” ujar Brent Fitz kepada Classic Rock.

Ucapan Brent Fitz memang terbukti, yang menjadi highlight di konser SMKC malam itu adalah dua lagu baru Slash, “Anastasia” (dari album Apocalyptic Love) dan “Beneath the Savage Sun” (dari album World on Fire), bukan lagi lagu-lagu klasik GNR. Permainan solo gitar Slash di kedua lagu itu begitu ditunggu-tunggu penggemarnya, karena selain cepat juga tidak sampai ‘keluar jalur’, masih dalam konteks lagu.

Ibarat anggur tua yang semakin lama disimpan semakin nikmat, Slash yang kini 49 tahun, semakin mumpuni dalam menguasai instrumen yang dipegangnya sejak umur 14 tahun itu. Mulai dari pemilihan tone, phrasing, bending, vibrato, run, picking harmonic dan seabrek teknik gitaran lainnya selalu diterapkan Slash pada saat yang tepat. Bukan untuk pamer, tapi untuk menghias lagu agar lebih enak didengar.

Dan bila ada satu kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan setiap konser Slash, itu adalah kualitas. Apa yang terdengar di rekaman itulah yang akan kita dengar saat menonton pertunjukan live Slash, atau bahkan lebih bagus lagi.

Gitaris yang tak pernah merasa cukup hebat untuk berhenti berlatih ini ternyata bisa menjaring fans-fans baru, yang belum lahir saat GNR mengalami puncak kejayaan di awal 90-an.

Seperti seorang penonton asal Indonesia, Dicky (13), yang hadir bersama 6 orang anggota keluarganya. “Saya suka Slash dari umur 9 tahun. Tahu dia dari Papa yang suka nyetel DVD atau CD GNR di rumah,” kata Dicky kepada Metrotvnews.com.

Tak salah kalau Richie Sambora (eks gitaris Bon Jovi) mengatakan bahwa Slash adalah sebuah fenomena alam. “Jutaan orang di seluruh dunia ingin main gitar karena dia. Saya terus terang cemburu padanya,” ujar Sambora dalam pidatonya saat pemberian penghargaan Les Paul Award untuk Slash di ajang NAMM 2015, 24 Januari lalu.

Tak terasa dua jam setengah waktu berlalu begitu cepat, Slash Myles Kennedy & The Conspirators pun memungkasi pertunjukan malam itu dengan “Paradise City”, lagu wajib bagi seluruh fans GNR dan Slash di seluruh dunia.

Tepat pukul 11.00 malam, para kru mulai membereskan peralatan panggung, namun ratusan penonton yang hadir masih enggan meninggalkan area Sunway Lagoon. Mereka masih terkesima bisa melihat Slash secara langsung, dan mungkin bertanya dalam hati, ‘Kapan lagi bisa melihat Slash live?’

metrotv

2015-02-18T17:09:38+00:00